Senin, 21 November 2016

Dandelion



Jadilah apa yang kamu mau dan kamu bisa. Jangan jadi sesuatu yang tidak pernah memikat hatimu.

Pernahkah kalian membayangkan akan bertemu dengan pangeran impian?.  Pernahkah terbesit dipikiran kalian saat kecil tentang pangeran idaman seperti apa yang didambakan oleh hati?.  “Aku pernah”.

Pernahkah kalian merasa kejadian saat ini adalah hasil dari perkataan kalian semasa kecil? “Aku pernah”. Tidak semua orang mangingatnya atau bahkan memikirkannnya, tapi banyak kejadian yang menurutku adalah hasil perkataan kita semasa kecil.  Terkadang kata yang tak sengaja kita ucapkan adalah kata yang dikabulkan Tuhan.

Namaku Lyra Rarala.  Sulit menyebutnya?. Panggil saja aku dengan si bunga Lily. Nama panggilan itu resmi kupakai saat aku duduk di bangku kelas 2 SMP. Berbeda dengan panggilanku saat kecil “Lala”. Beda tipis, tapi aku lebih menyukai “Lily” daripada “Lala”. Pernah kukatakan pada ibuku, seandainya aku punya adik berikan saja nama Lala padanya bu. Biar aku yang menggunakan nama Lily. Kalian tahu, kenapa aku lebih memilih nama Lily dibandingkan Lala?.

Semua itu terjadi saat aku duduk dikelas 6 Sekolah Dasar, usai ujian nasional. Guru wali kelas ku mengajak aku dan teman-teman satu kelas untuk berlibur. Dan saat itu guru kami menginginkan untuk singgah di taman bunga. Menurutku itu taman bunga karena disana banyak macam-macam bunga, bahkan sampai bunga dandelionpun ada.  Tapi menurut teman-teman dan guruku itu adalah toko bunga, karena jika ingin membawa pulang bibitnya, kau harus membayarnya di gerbang keluar. Saat itu kami akan melihat proses pencangkokan bunga bougenvile ada juga yang menyebutnya dengan bunga kertas, sambil memperhatikan bunga-bunga yang lain. Menurutku toko bunga itu adalah taman wisata bunga, karena selain hanya menawarkan bunga-bunga yang indah, para karyawan juga dengan cerdas menjelaskan arti dan makna bunga-bunga disana.

Aku yang saat itu sedang menikmati keindahan bunga-bunga yang bertebaran sampai lupa bahwa aku harus mengikuti arah perjalanan rombonganku.  Saat yang lain memilih arah jalan ke kiri, entah mengapa kaki ku seperti menerima perintah dari otak untuk melangkah ke kanan, karena mata yang telah lebih dulu terpesona dengan keindahan warna-warni bunga lily dan juga sebaran bunga dandelion yang berterbangan. Saat itulah aku juga melihat seorang karyawan wanita yang sedang menikmati hempasan bunga dandelion yang terbang terkena angin, terlihat wajahnya yang teramat bahagia menerima tamparan lembut dandelion.

“Hai kak? Yang ini namanya bunga apa ya?” Jari-jariku mengagetkannya, membuat matanya bergerak menatapku dengan tatapan teduhnya.

“Eh, yang mana dik?” Dengan cepat dia berdiri tegap mengelap wajahnya dan menggambar senyum simetris di bibirnya.

“Yang ini Kak” Tanpa berpikir panjang aku langsung menarik lengannya, dan menunjuk bunga berwarna putih dengan kelopak bunga yang lebar dan putik yang tumbuh seperti korek api, dihias dengan dedaunan warna hijau terang yang ditopang oleh tangkai yang ramping memanjang.  Indah.

“Ini bunga Lily, anak manis. Bagi pecinta bunga, bunga ini adalah “ratu taman”.  Coba kamu amati bunga ini dan rasakan, perasaan apa yang muncul dihatimu”.

Aku menatap wanita yang dengan sigap merapatkan setangkai bunga lili disela-sela jemari tangan kanannya, meratapinya dengan penuh perasaan. Tanpa berpikir panjang aku langsung  mengikutinya. Dan aku terbawa dengan suasana hening itu. “Suci, Lembut, dan Cantik” Dengan nada rendah kuungkapkan perasaanku terhadap bunga lily.

“Luar biasa, bagaimana kamu bisa menebaknya dengan tepat anak manis?, aku bahkah membutuhkan waktu berhari-hari untuk meresapi makna bunga ini. dan pada akhirnya aku harus menyerah dan bertanya pada seniorku disini” Matanya berbinar indah, bola matanya berwarna hitam legam. Berbeda denganku yang memiliki bola mata berwarna coklat terang. Kulitnya putih, wajahnya berseri. Tatapan bahagianya menghadap tepat dimataku. Tak lama kemudian jarinya mencubit pipi bakpau milikku. Dia terlihat gemas dengan pipiku.

Aku hanya membalasnya dengan senyum bahagia, pernahkah kalian melihat kebahagiaan anak kecil yang mendapatkan hadiah ulang tahun, seperti itulah kegirangan yang kualami saat itu.
“Siapa namamu anak manis?”

“Lyra Rarala, dipanggil ‘Lala’. Kalau nama kakak siapa ?” Tangan mungilku kujabatkan kearahnya. Dan dengan sigap tangan wanita itu meraihnya

“Aku Sela” gigi gingsulnya terlihat indah menghiasi senyum manisnya. Rambut hitam legamnya menyibak lembut wajahnya dengan terpaan angin sejuk pegunungan. Lala?, kenapa tidak dipanggil dengan sebutan Rara?” wajahnya terlihat mengernyitkan dahi.

“Kata Ibu, karena banyak teman yang kesulitan dengan panggilan itu, dan karena adik ku tidak bisa memanggilku dengan sebutan itu” tanganku jahil bermain tanah.

“Lala, kamu tahu tidak? Bunga lili memiliki makna yang berbeda loh, setiap warnanya, karena bunga lili memiliki banyak warna, maka makna yang ditimbulkan juga berbeda-beda”

“Benarkah, Kak?. Maukah kakak menjelaskannya padaku?. dan bolehkah aku memetik bunga ini satu tangkai saja? Untuk menemani perjalanan kita, berkeliling?” tanganku meraih setangkai bunga lili berwarna putih, yang sejak tadi menjadi perhatianku.

“Baiklah, petik saja bunganya untuk mu. Lala, bunga lili merah mengartikan keberanian yang lembut dan cantik. Jadi bunga lili merah menandakan tentang wanita yang berhati lembut dan cantik yang memiliki keberanian dan ketegasan. Banyak sekali di dunia yang pernah aku temui wanita memiliki sifat tidak tegas, sehingga menjadi bahan penindasan. Itulah makna dari unga Lili merah. Kau pasti sudah tau apa makna dari bunga lili putih?”

“Bunga lili putih menandakan ketulusan, kesucian, kecantikan dan kelembutan”

“Bisa jadi begitu, sayang. Dan kau tahu bunga Lili kuning mengartikan apa?” aku hanya bisa menggeleng, karena di pikiranku warna kuning adalah warna yang biasa digunakan untuk pertanda kematian. Karena didesaku setiap ada warga yang meninggal dunia, pasti didepan rumahnya ada bendera warna kuning yang berkibar.

“Bunga lili kuning menandakan”

“Kau tahu ini bunga apa?” Tangan Kak Sela jahil memetik bunga dandelion yang akhirnya putiknya berterbangan diterpa angin. “Dandelion, Kak” Aku menjawabnya dengan sigap. Tapi mulutku tak henti mendekati bunga dandelion mekar itu, untuk meniupinya. Bibirku tersenyum melihatnya berterbangan di antara bunga-bunga yang lain.

“Darimana kamu tahu anak kecil?. Tak banyak orang yang tahu bunga ini, kebanyakan dari mereka hanya menganggap bunga indah ini adalah rumput yang harus segera dicabut dari dalam tanah”. Langkah kaki nya terhenti dan aku masih asyik dengan dandelionku.

“Di desaku banyak rumput ini kak. Sepupuku dari kota yang memberitahu nama dari rumput ini”

“bunga dandelion ini bunga yang luar biasa, dia datang jauh dari eropa”

Bandarlampung,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar