Senin, 30 Maret 2020

Managing energy (Manajemen Energi)


From :Dita guritno di Inspigo
Bersama Ricky setiawan
Managing energy, not time. 

Selama ini sering kita ketahui adalah managing time. Tapi kali ini mas Ricky Setiawan akan memaparkan tentang managing energi, memanajemen energi yang kita keluarkan. 

Menurut mas Ricky, bahwasannya waktu yang kita miliki tuh tidak akan bertambah atau berkurang, dia akan tetap sama 24 jam. Dimanapun. Sehingga daripada mengurusi waktu alangkah lebih baik kalau kita memanajemen energi, karena energi jelas bisa kita kelola.

Managing energy adalah suatu cara untuk memastikan tindakan kita akan berdampak. 

Jadi untuk memberikan d ampak yang hebat juga kita harus mengeluarkan energi yang besar juga dong?? Karena hal ini akan berbanding lurus dengan hasilnya. 
Berikan energi yang terbaik, maka akan mendapatkan dampak yang terbaik pula. Bukan waktu yang banyak, lalu akan menjadi baik

Contoh simpelnya gini si gais, kamu belajar 10 jam tapi dengan energi kamu yang biasa aja,makan akan berbeda dampaknya dengan manusia yang belajar 1 jam tapi energinya maksimal. Nah kan, untuk itu kita perlu memanajemen energi kita, agar bisa memberikan yang terbaik dan dampak yang luar biasa.

Ingat bahwa "Kesempatan itu tidak datang dua kali" so, setiap kita dapat kesempatan itu berikan energi terbaik yang kamu miliki, keluarkan dia. 

#dirumahaja
#dirumahbarenginspigo
#inspigo 

Jumat, 27 Maret 2020

Time Management

Inspigo from Zhivanna Letisha

Self management : mengatur diri kita untuk mengatur waktu. Mengapa demikian? Karena kita memiliki jumlah waktu yang sama, sebagai manusia yang masih tinggal di muka bumi, kita memiliki jumlah waktu yang sama dalam sehari, yaitu 24 jam. Waktu ini tidak akan bertambah dan tidak akan berkurang. Tentu kita tidak sepenuhnya bisa memanajemen waktu tersebut dengan baik, apabila tidak diiringi dengan self management yang baik juga. 

Berapapun usianya masih penting loh untuk management diri sendiri. Mengapa demikian? Coba bayangkan jika tidak mulai memanje dengan baik diri kita. Pasti dimasa tua kita kan merasa tertekan deh, dengan rasa penyesalan. Karena akan banyak waktu masa kecil, remaja dan dewasa yang terlewat begitu saja. 

Nah, sobat cerdas agar kita mampu memanajemen diri kita terhadap waktu dan bisa mendapatkan bahan pertimbangan untuk memanajemen diri kita sendiri, Kak Zizi punya teori nih tentang pembagian waktu, yaitu ada 4 bagian waktu:

1. Contract time 
Yaitu waktu yang biasanya kita pakai untuk pekerjaan yang sudah seharusnya kita lakukan. Contohnya seperti sekolah, kerja ataupun kuliah. Hal-hal yang sudah kita sepakati dalam masa usia masing-masing. 

2.Commite time 
Waktu yang digunakan untuk memenuhi komitmen yang telah kita sepakati, waktu yang sudah didedikasikan untuk melakukan sesuatu (bukan pekerjaan yang menghasilkan gaji). Contohnya seperti menjemput adik sekolah, menjemput atau mengantar istri, mengantar orang tua berobat dan lainnya

3. Necessary time
Waktu yang kita butuhkan bisa jiga disebut dengan waktu primer, karena akan selalu menjadi kebutuhan dan hak bagi kita. Contongnya makan, mandi, tidur, ke salon. Nah waktu necessary time ini bisa jiga disebut sebagai me time

4. Free time 
Nah ini waktu bebas, nah teman-teman free time dan me time ini kedua hal yang berbeda ya, kalau me time itu masuknya dalam lebutihan kita, tapi kalau free time ini bisa kota manejemen sesuai dengan kebutuhan kita, misalnya peningkatan skill, tambah pengetahuan dan lainnya lagi...  

Ayoo, mulai sekarang kita bagi waktu kita, manajemen diri kita dulu, agar kita juga. Bisa memanajemen waktu kita, sehingga segalanya yang akan terjadi bisa lebih matang untuk dilewati....  

#inspigo
#aarafalesia
#Menujuproduktif
Kota Metro, diruang gelap dengan suhu 17°C, dingin yang membuat nyaman. 

Rabu, 25 Maret 2020

Ini (bukan) Rumahku


Ini adalah aku, seorang yang tak pernah ingin ada di rumah. Mulai hari ini, aku akan berkisah tentang aku yang tak pernah rindu rumah, tentang aku yang tak pernah menyukai suasana rumah. Tentu tidak setiap saat aku begitu, ada masa aku suka di rumah, yaitu 5 menit perkumpulanku dengan keluargaku, hanya 5 menit saja, tidak boleh lebih. Karena lebih berarti hancur.
Malam ini aku merasa, aku tak layak hidup di dunia. Aku masih terjerat dengan ketidaksehatan hati, aku ditolak kerja dimana-mana, bahkan sekarang sedang wabah virus Covid-19 dan membuat pemerintah me-Lockdown seluruh kota. Jadilah aku tidak dapat kerja sampai sekarang. Keuanganku yang menipis dan juga ketidakmampuanku mengurus rumah. Terlalu rumit untuk dijelaskan satu-satu.
Tiga bulan sudah aku menghabiskan hidupku menjadi pengangguran, membantu membersihkan rumah: menyapu, mengepel, memasak, mencuci baju dan membersihkan rumah, mengantar jemput adik sekolah, mengajar adik, membereskan keperluan rumah tangga, mulai dari membeli sayuran, memperbaiki alat-alat yang rusak, atau memanggil tukang, bahkan menjadi juru kesana-sini mengurus kepentingan ibuku.
Lelah? Iya sangat.
Suka? Iya sangat tidak suka.
Beberapa kali aku mencoba menghabiskan waktu untuk belajar mempersiapkan diri mengikuti ujian masuk pascasarjana. Sayang, semua itu hanya mimpi dan angan-anganku saja. Bahwa mengurus anak kecil beserta rumah dan seisinya adalah hal mutlak yang tak bisa disambi belajar serius. Menurutku.
Aku memilih mengungkapkan perasaan ini dalam blog, bukan untuk menyebarkan aib keluiargaku, tapi aku hanya ingin sedikit lega dan mengeluarkan apa yang menyangkut di hatiku, sehingga membuatku makin sesak dan tak berdaya.

Kamis, 12 Maret 2020

Gagal Maning


Dari aku yang pernah memcoba tapi gagal, sesuatu yang seharusnya aku syukuri dari kegagalan adalah aku jadi tahu dan makin mengenal diriku. 
Tuhan baik dan maha bijaksana. Tuhan lebih mengenalku dan memahamiku, aku gagal bukan berarti aku bodoh atau aku pemalas. Hanya saja Tuhan ingin aku mendapatkan yang terbaik agar kelak dilehodupanku selanjutnya aku bisa menjadi orang yang selalu dekat dan mengingatnya. Aku masih berusaha dan berjuang,  disini belajar, memantapkan hati. 

Rindu

Untuk kesekian kalinya aku Rindu dibuatmu, Senyummu, matamu, tingkahmu sampai juga pada rengekanmu saat sakit. 
Beruntungnya aku telah menjadi seseorang yang siap tanggap saat kamu sakit. Aku menjadikan diriku sebagai 118 yang aduh entah bagaimana aku bisa mendeskripsikannya. 

Untungnya pelarianmu saat sakit adalah aku. Bukan yang lain. Atau mingkin secara kebetulan saja memang hanya aku yang sanggup dan mau kau suruh. 

Jika memang demikian, mingkin itu adalah salah satu cara tuhan menuliskan jalan cerita kita. 

Jika pun tak akan pernah menyatu, mungkin ini juga bagian dari tuhan memberikan aku kenangan yang begitu Indah bersamamu. 

Dari aku yang masih rindu. 

Sabtu, 07 Maret 2020

Aku Pernah Gagal

Setelah pulang dari tugas Indonesia mengajar, aku tidak langsung hidup enak bak anak presiden. Aku masih harus berusaha menghadapi kejamnya beberapa penolakan atas lamaran pekerjaan yang kukirim. Beberapa kali aku hanya sekedar ingin mendapat kesempatan untuk belajar ilmu baru, namun sayangnya beberapa orang kurang menyukai pembelajar, mereka lebih suka dengan pemilik keterampilan. Di sini aku merasa ilmu pengetahuanku tidak cocok dengan bidang yang ingin aku pelajari (semacam tim riset kualitatif, atau semacam menjadi operation association haha. Padahal sejujurnya aku hanya ingin belajar dan mencicipi rasa dari menjadi pekerja kantoran saja,  untuk sekedar punya pengalaman. 

Mungkin background pendidikan dan juga background kerjaku yang kurang pas di hati mereka. Tidak apa-apa tentu, Tuhan sudah mengatur semuanya. 

Aku hanya ingin mengatakan aku pernah gagal melamar pekerjaan. Tapi nyatanya aku segera mencari mereka yang cocok denganku.