Senin, 20 Februari 2017

Penyesalan

Senja sore ini, kau duduk dipangkuan batang tumbang. Menatapi siluet bersama belaian mesra angin pantai. Kau saksikan di sana anak kecil berburu ikan terbang bersenjatakan tanah liat keras dan karet gelang. Di depanmu terlihat ikan sedang bersorak berebut makanan, saat makanan dari langit berjatuhan maka segerombolan ikan itu langsung berkumpul, bagaikan pesta senja yang indah. Kau masih saja duduk tak ingin berdiri, jika kau lihat ke arah lebih jauh ada pantai di sana.

Tapi bahkan pantai tak lagi terlihat. Kau tidak akan bisa merasakan alunan melodi permainan angin pantai yang menerobos lubang bambu itu. Bunyinya nyaris merdu. Sekarang kau pejamkan matamu untuk menikmati alunan ombak yang mungkin masih terdengar. Tapi tiba-tiba dahimu mengernyit, tanda bahwa telingamu tak lagi bisa mendengar alunan ombak pantaimu.

Tepat saat gelap merayap perlahan kau melangkahkan kaki ke arah pantai, mengikuti jejak pencarian alunan ombak. Kakimu tak berhenti hingga akhirnya kakimu basah oleh air asin. Sekarang tak ada lagi senja, tapi pantai ini indah dengan kemajuan teknologi. Tubuhmu menghadap ke batas laut, di sana tampak lampu kemerlipan berwarna warni jalan perlahan: kapal minyak.

Tapi air matamu jatuh, saat kau coba menghidupkan lampu petromaks yang sengaja kau curi di gubuk orang. Matamu menyaksikan bayak sampah berserakan di pantaimu, dan kini air laut sudah berubah gelap tak indah. Air matamu tanda penyesalan kepergianmu meninggalkan tanah kelahiranmu. Dan kau gagal menjadi penjaga kampung halamanmu.

Bandarlampung, 15 Februari 2017

1 komentar: