Minggu, 25 September 2016

Impian 13 Provinsi



Senja yang sangat indah, kunikmati bersama kicauan burung-burung di taman belakang rumah, bersama dengan suami yang tak pernah kusangka akan bersanding denganku saat ini. Menikmati secangkir teh panas bersama dengan hembusan angin hujan yang menerpa wajahku, membuat rambut putihku terurai bersama angin. Kuhabiskan sisa hidupku bersamanya. Seorang kekasih dalam buku impianku, yang kini duduk dihadapanku, dengan sesekali menyuapi ku sesendok Teh panas yang telah ditiupkannya untukku. Terasa amat manis.
Kami sangat menyukai senja yang datang bersama gemercik air hujan, kami juga menyukai senja dengan hamburan bunga dandelion di taman rumah. Saat ini kami hanya tinggal berdua, anak-anak kami sudah tumbuh menjadi orang tua bagi anaknya, maka kuharap mereka akan menjadi keluarga yang bahagia.
“Bagaimana jika kejadian 30 tahun lalu tidak terjadi?” Sesekali dia mengingat masa lalu saat duduk berdua.
“Jika kejadian 30 tahun lalu tidak terjadi, maka kamu bukanlah takdirku, dan kita tak akan pernah menikmati senja ini” Kutatap tetesan air hujan yang semakin lebat. Aku tahu semua ini terasa sangat mustahil. “Aku dan dia” menurutku kami tak akan pernah bersatu. Bahkan hanya sekedar berjumpa pun aku rasa tidak akan terjadi. Tapi, ketika takdir berkata aku dan dia harus bertemu kembali, maka aku dengannya pun akan dipertemukan. Begitupun sebaliknya. Aku tak pernah mengharapkan pertemuan ini lagi sejak 38 tahun yang lalu, saat aku telah berhasil memaksa hatiku untuk meninggalkan perasaan itu. Perasaan yang kumiliki selama 7 tahun, kurasa begitu. Tapi kenyataannya perasaan itu tetap kumiliki hingga saat ini, saat aku duduk dihadapannya dengan menunggu suapan sendok teh hangat dari tangannya yang manjulur kemulutku.
“Maafkan aku” Kutundukkan kepala dan menyesali perbuatanku.
“Selalu saja meminta maaf ketika sedang membicarakan masa lalu. Bukankah seperti yang kamu bilang, ini sudah takdir Tuhan. Sudah bagian dari rencana Tuhan”
“Tapi, seandainya dulu aku mau menunggumu, dan aku percaya kata-kata ibuku, maka kita akan bersama dari dulu, memiliki 2 putra dan 2 putri, seperti impianmu. Bukan hanya itu, aku tak harus repot-repot menyiksa batinku untuk melupakanmu. Semua itu penyesalanku”
“Baiklah itu memang penyesalanmu, dan untuk itu aku mengakuinya. Bukankah dulu sudah sering kuingatkan bahwa dimanapun kamu berada, turutilah apa kata ibumu, bahkan aku menyesal karena harus menikahimu tanpa ibumu. Tapi semua ini juga kesalahanku, bukankah seharusnya aku tidak membuatmu menunggu, dan setidaknya, dulu kuyakinkan dirimu untuk menungguku saja. Tapi, sudahlah bukankah semua ini sebuah takdir untuk kita. Perkenalan, pertemuan, perpisahan, keegoisan, penyesalan, pertemuan, hingga akhirnya mencapai pada kebersamaan, yaitu tahap yang saat ini sedang kita rasakan”.
Hujan semakin lebat, percikan air mulai membasahi pipi keriputku yang sudah termakan usia. Aku memaksanya untuk masuk kedalam rumah. Kuharap pembicaraan ini akan berganti tema, namun ternyata dia sedang ingin mengingat masa lalu diantara kami. Aku memintanya untuk duduk dipangkuanku. Kusisir rambut berubannya dengan jemariku yang tak lagi mulus. Senyum yang sama saat pertemuan pertama kami, senyum itulah yang saat ini sedang  terpancar dari wajahnya.
Empat puluh tiga tahun yang lalu, saat pertama kali aku mengenalnya melalui pesan yang tersesat. Entah apa itu yang dinamakan dengan takdir, aku juga tak percaya saat itu. Hingga akhirnya berujunga dengan suatu pertemuan yang juga entah itu sebuah takdir atau hanya pemaksaanku saja. Semua terjadi dengan proses yang sangat panjang. Aku bahkan tak pernah tahu bahwa aku mencintainya. Bahkan aku juga tak pernah tahu bahwa aku akan bertemu dengannya lagi. Perasaan cinta itu bukan hanya sekedar cinta, tapi aku merasakan keyakinan terhadapnya.
Empat puluh tahun yang lalu. Aku menghapus segala perasaan ku. “Aku akan melupakannya, karena sungguh aku tak pernah mengenalnya. Jadi tak akan ada cinta antara aku dan dia” Begitulah penjelasanku terhadap Rukhsan. Ayah dari putra-putriku.
“Sudahlah jika memang kamu ingin bersama Darel, kamu bisa bersamanya”
“sungguh San, aku tak pernah merasakan cinta terhadapnya. Dia bukan siapa-siapa bagiku” Itulah kesalahan pertamaku, semua berawal dari kalimat itu. Bahwa aku tak pernah menganalisa perasaanku. Semua terjadi begitu saja, aku mengkhianati hatiku sendiri, aku tak pernah tahu bahwa ternyata aku telah mencintainya.
Tiga tahun kucoba untuk melupakanmu, kucoba untuk menghilangkan bayangmu. Mulai dari ikut serta dalam organisasi, hingga akhirnya aku lulus dan mencari beasiswa keluar negeri. Tapi usahaku benar-benar gagal. Kamu tetaplah menjadi kamu, kamu adalah seorang yang nyata ada dalam kehidupanku. Hingga akhirnya kabar itu tiba dimataku. Kabar pernikahanmu. Saat itu hatiku hancur, kamu tahu Rukhsan menjadi korban kemarahanku. Hingga saat ini dia tak pernah tahu bahwa aku mencintaimu.
Aku, 45 tahun yang lalu melangsungkan pernikahanku dengan Rukhsan, berharap dengan kehidupan yang bahagia, dan menjemput impian-impian bersamanya. Aku rasa, begitupun denganmu, yang akan menjalankan kehidupan mu dengan istrimu. Aku harap kalian akan selalu bersama dan bahagia. Itulah aku 45 tahun yang lalu.
Lagi-lagi aku ingat Tuhan selalu mendengarkan doaku. Doa yang selalu terucap dari bibirku. karena setiap keinginan yang menjadi doa akan terjadi pada waktu dan tempat yang sangat tepat. Aku hidup bahagia dengan Rukhsan, aku tak lagi menginginkan perasaanku pada Darel, begitupun dengan Darel yang bahagia bersama istrinya. Tapi aku lupa, bahwa tidak selamanya manusia bisa lari dari masa lalu nya. Dan aku juga lupa bahwa Allah selalu mempunyai skenario yang sangat baik dan Allah akan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Keridhoan-Nya adalah kebersamaanku dengan Rukhsan hanya sampai saat ini. Bukan aku yang akan membersamainya hingga kematianku, tapi Rukhsanlah yang membersamaiku hingga kematiannya. Aku mencintainya, tapi lebih dari itu didalam hatiku ada dia yang ternyata menjadi takdirku.
Tiga tahun setelah kematian Rukhsan, tiga tahun berada dalam bayangan masa lalu dan masa depan. Keyakinan yang kumiliki tetaplah sama, perasaan yang kumiliki juga masihlah sama. Semuanya seperti terulang kembali seperti film yang sedang kuputar di depan mataku. Itulah saat pertama aku melihat senyum dari bibirmu, senyum yang sama, senyum sat pertama kita berjumpa. Dan tatapan mata yang sama, tatapan mata dari mata sipit mu, yang kini entah bagaimana kau turunkan pada anak laki-laki ku. Sebelum akhirnya disiang yang panas itu, aku tahu bahwa lagi-lagi mutasi pekerjaan yang membuatmu harus berkeliling Indonesia. Aku benar-benar terkejut sedang berhadapan dengan mu Tuan Abraham Darel.
Saat ini, umur kita tak lagi muda, aku sudah menjadi seorag janda, tapi aku tak tahu apa kabar dengan mu.
“Hai, masih ingat aku?, bolehkah aku duduk disampingmu?” Sinar matahari yang sangat terik, menghalangi mataku untuk membuka sepenuhnya. Hingga ku tutupi mata ku dengan tangan hormat diatas kedua alisku.
“Mmm… Maaf saya sedikit lupa ingat, silakan duduk” begitulah caraku melarikan diri dari kekhawatiranku bertemu denganmu.
“Haruskah aku berkenalan?. Namaku Abraham Darel” Dia menjulurkan tangannya untuk menjabat tanganku. Dan aku hanya kebingungan melihat sikapnya.
“Dimana suamimu?, apakah dia ikut?” ujarnya
“Dimana istrimu?, apakah kamu meninggalkannya untuk bertugas?” ujarku bersamaaan dengan pertanyaannya.
Aku tersenyum, dan menjawab pertanyaannya tanpa berkata Rukhsan telah tiada. Namun dia tak menjawab pertanyaanku, seperti yang kutahu, itu memang kebiasaannya.
Dulu aku sempat berdoa agar kamu mendapatkan kesempatan untuk bertugas di provinsiku, selama 20 tahun doaku terabaikan begitu saja. Sekali lagi aku katakan bahwa Tuhan selalu mendengar doaku. Tuhan selalu mewujudkannya di waktu dan tempat yang tepat. Setelah pertemuan itu, dan setelah aku menjadi guide mu di provinsiku. Saat itulah waktu yang tepat Tuhan mewujudkan doaku. Provinsiku memang menjadi provinsi ke-20 yang menjadi tempat tugasmu, dan provinsiku juga yang menjadi tempat terakhirmu menetap dalam pekerjaan dan manua bersamaku.
“Bagaimana ini, aku tak lagi bisa mencapai 13 provinsi yang belum kukunjungi. Karena kamu, aku harus menetap di provinsi ini.
“Ya mau bagaimana lagi, kalau kamu masih mau pergi berkeliling Indonesia dengan alasan mutasi pekerjaanmu silakan saja untuk pergi menjauh dariku” aku mulai berani menantangnya
“Bagaimana bisa, aku melepaskanmu setelah sekian lama aku menanti kebersamaan ini, lebih baik aku diam duduk disini bersamamu”
“Bagaimana kalau kita ganti sisa impian 13 provinsimu dengan Berkeliling bersamaku” Aku memberinya ide.
Begitulah kisahku, kisah impian 13 provinsi bersamamu, bersama orang yang selalu kunantikan kehadirannya sejak dulu. Bersama orang yang selalu setia menjaga perasaannya walaupun telah sempat memiliki dia yang lain. Karena terkadang hati kita bisa menyayangi dan mencintai dua atau lebih orang dalam satu masa, tapi cobalah menganalisis setiap perasaan yang hadir, jangan terburu-buru menyimpulkan, karena penyesalan itu benar-benar akan datang di akhir kejadian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar