Rabu, 10 Mei 2017

Jangan pergi tanpa bekas !!!

Pada pagi biru yang menjadi kuning kelabu berselimutkan rintik hujan yang halus membasahi bumi, aku menitipkan rindu pada siapa saja yang kusebut sebagai rumah. Di sepertiga malam tak henti aku Menantinya membuka pintu dalam panggilan abadi yang kuteriakkan. Aku bukanlah sesuatu yang hina yang harus kau tinggal pergi sampai tak berbekas.

Tujuh tahun lalu, aku masih menikmati setiap kasih sayang sebagai tetesan lembut yang kau berikan. Menjagaku dengan sepenuh hati adalah menjadi kewajiban dalam dirimu. Aku bahkan bangga pada apa yang kau sebut sebagai keutamaan. Lingkungan yang menjaga dan menyatukan kita menjadi istana terbaik yang pernah aku temui.

Aku menyaksikan langit mendekat saat kau cium tanah beralas. Lalu tanganmu dengan sigap menengadah seperti memohon segala sesuatu. menangis saat mengingat segala pengkhianatan yang kau lakukan. Lalu kau sebut bahwa kau mencintai-Nya dan kau percaya akan cinta yang dilimpahkan-Nya.

Tapi itu dulu…
Saat dimana istana indah itu menyelimuti kita.

Sekarang semua hanya tinggal kenangan semu. Menjadikanmu nyata bahkan menjadi olokan anggota tubuhmu. Kau lupa bahwa kita pernah menyatu dalam kehidupan yang kau bilang indah. Setiap malam kupanggil namamu dalam keabadian, tapi aku hanya mendengar rentetan kata “Ah” yang menjadi lambang bahwa kau enggan berbicara denganku.


Kau mulai pergi menjauh dari rumah yang kita bangun. Tidak, bahkan aku merasa bahwa aku yang kau tinggal tanpa bekas. Kau lebih memilih dia yang menarik perhatianmu, sesuatu yang kusebut dia iblis. Aku bukanlah sesuatu yang hina yang harus kau tinggal pergi sampai tak berbekas. Aku adalah iman, yang akan menjaga kedekatanmu dengan sang maha segalanya. Sedang kau adalah sesuatu yang kusebut sebagai pengkhianat. Aku adalah iman, yang kehilangan raga utnuk mendekap ilahi. 

aku hanya mampu menunggu kau kembali, semoga jejakku masih berbekas dalam hidupmu, agar kelak tak terlalu lama kau pergi.

#Onedayonepost
#ODOP
#Tantangan 
#SaatKehilangan

Selasa, 09 Mei 2017

Seminar Proposalku

Bagaimana rasa gemetar itu hadir saat kita merasa belum siap menghadapi sesuatu. sejak hari itu, dimana aku mendapat kabar bahagia darinya. Aku bahkan tak sanggup menghadapinya, merasa waktu satu minggu masih kurang untuk menampilkan sesuatu yang indah. Meskipun tidak munafik bahwa kabar ini adalah harapanku selama lima bulan lalu. Aku mencoba mempersiapkan segalanya selama satu minggu, tapi tuhan selalu punya skenario yang menurutnya paling baik untuk ku jalani.

Hari pertama adalah kamis. Seharusnya aku sudah bersiap menyiapkan draf proposalku, tapi ekspektasiku terlalu tinggi setelah diberi kabar seminar itu. Dalam ekspektasi aku menuliskan hari ini adalah hari pengumpulan draf teman-teman yang pernah proposal, dengan tujuan agar aku bisa mempelajari banyak hal dari draf mereka, tapi sayangnya setelah aku menghubungi bebrapa teman yang menurutku punya penelitian yang sejenis tak ada yang bisa kutemui hari ini. Akhirnya aku memutuskan untuk merubah jadwal. Dan jadwal kamis kuganti dengan membaca buku dan memeriksa beberapa kesalahan penulisan dalam daf proposalku.

Hari kedua adalah jumat. Hari paling berkah, jadi aku mengisinya dengan hal yang bermanfaat. Its time to mengaji, aha berkumpul bersama orang-orang kece yang penuh ilmu Allah selalu menjadi hal yang paling mengasyikkan. Selain menghadiri majelis ilmu, aku berencana untuk meminta file teman-teman. Sayangnya mereka baru bisa ditemui nanti malam.

Pukul 17.00 WIB satu pesan singkat di ponsel, membawaku pulang kembali ke alam nyata. Mataku masih berusaha mengumpulkan energi untuk membuka dan melihat dunia. Pengasuh asrama yang kirim pesan, perintah mengajar. Jadilah malam ini ku coret lagi agenda untuk merevisi draf proposal. Aku harus mendahulukan kewajibanku. Menyalurkan ilmu yang serba seadanya. Hingga akhirnya agenda itu benar-benar harus dicoret, karena sepulang dari asrama tubuhku meminta haknya.

Hari ketiga adalah Sabtu. Bangun pagi, cari makan siang gratis nih. Sudah lima hari yang lalu aku mendapatkan udangan menghadiri acara junior di jurusan. Acara ini disebut dengan jalan-jalan bersama pembimbing akademik, yah lumayan bagi anak kos seperti saya yang pasti langsug tertarik mendengar dapat makan siang gratis. Acara ini tidak membuat agendaku tercoret di hari sabtu, karena ini bukan acara yang tidak terencana.

Hari keempat adalah hari minggu. Hari ini pun sama. Aku harus bangun pagi untuk menghadiri acara workshop kepenulisan. Lagi-lagi ini adalah acara gratis, sehingga membuat minatku melonjak naik karena ada makan siang gratis. Haduuh maaf aku hobi makan, tapi aku hanya sebatas anak kosan yang hobi dapat gratisan jadilah ikut acara ini.

Eng ing eng…. Eh ini mah uncle kali ya? huft ini adalah acara kepenulisan bersama FLP Lampung, so aku pikir siapa tahu bisa daftar member FLP kan? Menambah ilmu kepenulisan di dunia nyata. Hehe. Oke ini akan dijelaskan lebih lanjut di tulisan berikutnya. Oh iya, acara ini memakan waktu lama dan membuat tubuhku kembali meminta haknya saat malam tiba. Ing eng, mataku tertutup dan tubuhku sudah berbalut selimut.

Hari kelima adalah hari senin. Bangun pagi yang tidak enak. Langsung ingat bahwa hanya tinggal tiga hari lagi aku akan menuju seminar. Aku belum selesai mengoreksi draf dan belum membuat powerpoint untuk presentasi. Aku harus segera bergerak. Tapi tiba-tiba ada yang membuatku tak nyaman menghadapi hari-hari ini. Adalah sebuah kecemasan yang tinggi, karena merasa tidak menyiapkan seminar dengan baik. Akhirnya aku berkirim pesan pada sahabt-sahabatku.
Guys, aku deg deg an banget nih. Takut kena marah sama bu Titi dan bu Ila” begitulah pesan yang kukirim di group “CnG” sebut saja begitu.

“Memang bu Titi dan bu Ila pernah marah waktu seminar” salah seorang teman membalas chatingku dengan cepat. Aku berpikir sejenak, benar juga beliau tidak pernah marah saat seminar, hanya saja beliau selalu memberikan perbaikan, itu wajar kan? Aku kembali tenang. Pesan-pesan lain mulai bermunculan, memberikan semangat dan doa. Hatiku mulai tenang. Dan malam ini juga akhirnya selesai sudah draf proposalku.

Hari keenam adalah hari selasa. Hari pengumpulan draf proposal. Kalian tahu malam sebelum aku menutup mata untuk tidur. Otakku masih memikirkan tentang lampiran dalam draf proposalku. Dan saat aku membuka selurh file lampiran, ternyata lampiranku pun belum selesai direvisi. Aku mengeluh dengan tim skripsiku. Bagaiaman tidak? Kemarin aku meminta dia mengoreksi, dan dia menjawab sudah bagus dan sesuai semua, setelah kubuka ternyata zonk. Maka pembukaan hari selasa adalah merevisi lampiran. Kemudian disusul dengan mencetak draf. Akhirnya sampai pada agenda pengumpulan draf. Aku dan tim skripsiku menemui dosen untuk memberikan draf proposal.

Hari ketujuh adalah hari rabu. Hari gemetar. Rasa cemasku semakin meningkat. Aku membuangnya jauh-jauh untuk lebih fokus merangkai presentasi. Ah, yang benar saja saat aku kembali membuka draf proposalku ternyata banyak kesalahan dalam penulisannya. Bahaya. Kecemasanku meningkat drastis. Aku kembali berkirim rasa pada sahabat-sahabatku. Alhamdulillah, aku senang mereka memberikan dukungannya dan membuatku menjadi lebih semangat.

Hari Seminar adalah hari kedelapan setelah kabar itu. Pagi ini kubuka mata dengan rasa cemas yang semakin meningkat. Ah, aku melupakan sesuatu yang penting. Aku belum meminta doa dan restu bunda, pantas saja gelisah menyelimuti hati. Akhirnya aku memtuskan menelpon bunda di rumah. Akhirnya setelah mendapat beberapa nasihat dan motivasi, hatiku benar-benar tenang. Ah, aku lupa rido dan doa orang tua itu paling utama dalam kehidupan ini. Hanya tinggal beberapa jam saja aku melakukan seminar proposalku dihadapan peserta, dosen pembahas dan dosen pembimbing. Tapi hatiku semakin tenang dan memasrahkan segalanya pada-Nya yang maha mengatur segala sesuatu. akhirnya seminar berjalan dengan lancar, meskipun banyak revisi.

Terimakasih teruntuk bunda atas doa dan dukungannya, utuk dosen-desen yang menggetarkan hati dan grup CnG yang kocak banget ngasih motivasinya dan tak lupa teman-teman yang hadir di seminar, terimaksih banyak ya…


Tetap semangat untuk tim skripsiku….

Senin, 08 Mei 2017

A untuk Alif

Suasana fajar selalu menyenangkan, banyak harapan dan kebahagiaan yang terlihat pada setiap wajah yang lalu lalang dihadapanku. Cahaya lampu masih terang, sedang langit mulai membiru. Tanganku masih erat memegang kertas yang berisi nomor kursi dan nomor gerbong, lalu mataku asyik menyaksikan beberapa kereta yang tertidur lelap dalam peristirahatnnya.

Setengah jam yang lalu aku melambaikan tangan pada teman yang mengantar kepergianku tepat di pintu pemeriksaan tiket. Setelah memberikan kartu identitas dan tiket kepada petugas, aku memutar arah, menyaksikan tangannya yang melambai penuh cemas.

“Terimakasih ya Put, tumpangannya hehe”

“Hati-hati di jalan, Fa. Kalau sudah sampai tidak perlu hubungi aku”. Putri memperlihatkan ponsel berwarna putih dengan gantungan huruf “A”.

“Itu milikku Put”. Putri dengan sigap berlari ke arahku, tanpa melawati palang pemeriksa tiket dia memberikan ponselku.

“Jelas saja aku tak perlu menghubungimu, tapi akan kupastikan ponselmu akan diserang SMS”. Tanganku dengan gesit menarik gantungan di ponselku.

“Akan kupastikan, kau bertemu dengan Alif satu kali, dua kali, tiga kali, lalu kau menikah” Teriakan itu membuat hatiku berdesir hebat, nyaris direspon oleh seluruh anggota tubuhku. Alif. Benar saja seorang yang menjadi ambisiku dalam hidup. Memperjuangkannya menjadi nyata hanya sebuah dongeng penghantar tidur, yang akan kubuat ending bahagia. Semu.

Putri terlalu bahagia mengolokku dalam hal ini. Lalu kami tertawa bersama dan saling melambaikan tangan. Langkah kaki kami membut jarak yang semakin jauh, sampai akhirnya aku masuk dalam ruang tunggu, maka punggung Putri otomatis tak terlihat.

Aku terlalu suka menunggu, keberangkatan kereta yang seharusnya pukul 07.00 membuat aku rela menunggu 2 jam sebelum dia melaju. Mataku meneliti setiap sudut mencari sesuatu yang penting. Gantungan ponselku ternyata hilang, tapi aku bahkan lupa dimana jatuhnya. Usahaku tak sebesar niatku. Bahkan aku tak ingin menjauh dari kursi tunggu. Kursi ini telah membuatku nyaman menyaksikan beberapa manusia yang unik.

Sampai akhirnya mataku menemukan target yang tak terduga. Seorang anak kecil yang digandeng kedua orang tuanya melangkahkan kaki dengan riang, kusebut dia sebagai pangeran. Mereka duduk di bangku yang sejajar denganku. Ayahnya berpamitan hendak ke toilet. Belum juga ayahnya kembali, sang ibu seperti tak kuasa menahan sistem ekskresinya bekerja. Tunggu, aku seperti pernah melihat wanita itu. Dia memang ibu pangeran kecilku. Entah perjanjian macam apa yang dilontarkannya kepada pangeran, tapi langkah kakinya begitu saja meninggalkan pangeran kecilku sendiri.

“Hai, Mirza??” Matanya membelalak tertegun menyaksikan wanita dewasa yang muncul dihadapannya.

Ka… kak. Si… a…pa…??”. Bicaranya semakin fasih saja, terakhir aku mendengar suaranya satu tahun yang lalu. Lewat media sosial ibunya.

Aku mengulurkan tanganku, menjabat dengan riang “Hai Mirza, perkenalkan aku penggemarmu”.

“Tapi, Kak. Milza bukan altis”. Telunjuk tangan kanannya sedang asyik menarik sesuatu di dalam gadgetnya. Anak zaman sekarang memang pandai memainkan teknologi.

“Nah, berarti sekarang Mirza sudah menjadi artis” Aku mencubit pipinya. Menggemaskan. Mirza menatap heran, matanya menatap sekeliling. Mencari ayah dan ibunya yang tak kunjung kembali.

“Ah??? Kalau begitu aku minta hadiah, Kak?”. Kini matanya mulai terfokus padaku, tangannya menengadah dan matanya membulat memberikan makna kemanisan pada wajah imutnya. Kuletakkan ponsel diatas tangan kirinya dan tanpa ragu kuputar tas ransel ke depan, lalu dengan sigap mengambil dua buah coklat yang siap diterkamnya.

Aku tersenyum menyaksikan adegan itu, kutatap lamat-lamat wajahnya. Ceria. Sama seperti video dan poto-poto yang kulihat satu taun lalu. “Taraaaa…. Ini hadiah untuk, Penggemal pel-tama mil-za” gantungan ponsel dengan huruf “A” terpampang jelas menggantung di jari telunjuknya yang kini berada tepat dihadapanku. Tanpa berpikir panjang tanganku langsung meraihnya. Dan kupeluk erat tubuh mungilnya.

Tapi, semua berubah menjadi hal paling menegangkan. Saat sosok tinggi menutupi cahaya lampu tempat duduk kami.

“Mirza??”. Aku seperti mengenal suara itu, tapi tubuhku kaku dan takut menengok kebelakang, kupikir itu adalah Ayah mirza, tapi…

“Om Alif” Suara mirza hampir memekakkan telingaku, dan tanpa berpikir panjang aku melepaskan pelukanku untuk mirza. Aku melangkah mundur dengan tubuhku yang masih jongkok dihadapan Mirza. Sampai akhirnya, sesuatu menyentuh punggungku, hingga akhirnya aku harus berdiri dan rasanya ingin langsung memutar balik arah. Tapi ternyata putar balik arah saat tubuh bagian belakangmu menyentuh sesuatu bukanlah hal yang direkomendasikan.

Kenangan itu hadir kembali, turun bersama kereta yang baru saja lewat melanjutkan perjalanan. Mataku masih mengingat setiap inci dari wajahnya. Tinggi badan 170, mata sipit, kaus hitam, jam tangan perak, hidung mancung, kulit sawo matang dan satu lagi, gaya rambut ala chef Arjuna. Senyummu, masih tetap memikat.

“Perhatian. Perhatian, kereta jurusan Kediri-Poncol berada di lintasan tiga, bagi penumpang, dipersilakan untuk menuju pemberhentian jalur tiga... sekali lagi…” Suara staf yang mengalun merdu, telah menyelamatkanku dari jeratan ambisiku.

“Hai…” Tanganku melambai, menunjukkan gantungan ponsel inisial “A” tanpa sengaja, karena kuletakkan gantungan itu di tangan kanan.

“Hai, Fafa” Suaranya masih sama, dan tatapannya pun masih sama. Tapi langkah kita tidak lagi sama. Otakku memberi perintah hadap kanan. Lari grak. Bersembunyi adalah hal paling aman. Tapi, aku seperti menjadi buronan tingkat dewa. Lihatlah dia bagai seorang polisi yag siap menerkam dari belakang.

Hingga akhirnya kuraih pintu gerbong pertama. “tuuut… tuuuut…” kereta mulai berjalan perlahan. Tanpa ragu, aku melambaikan tangan padanya. Seseorang yang selalu menjadi ambisiku, tapi tak pernah ku perjuangankan. Seseorang yang selalu menjadi impianku, namun aku takut meraihnya. Seseorang yang selalu hadir dalam angan, namun aku tak sanggupp untuk hanya sekedar berangan. Aku tersenyum. Kuperoleh balasan lambaian tangannya.

Tanganku erat menggenggam gantungan ponsel. A untuk Alif. Aku adalah penggemar nomor satu keluargamu. Aku terlalu berambisi padamu dan keluargamu. Bahkan satu kali pertemuan kurasa tak akan mampu mengobati ambisiku. Karena ambisiku adalah sesuatu yang tidak kamu harapkan. Aku menyukaimu sejak dulu. Sejak pertama kali aku melihatmu. Bukan sejak pertama kita saling kenal.

Baru saja aku hendak memberi berita menarik pada Putri, sayangnya doa putri akhirnya terkabul untuk yang kedua kalinya. Ponselku kuberikan pada Mirza dan aku tahu bahwa dia adalah keponakan Alif. Habislah sudah, kereta sudah berjalan terlalu jauh. Aku hanya bisa duduk menikmati video perjalanan yang terlihat dari jendela kereta.

“Mau kopi mba?” Seseorang dengan Tinggi badan 170, mata sipit, kaus hitam, jam tangan perak, hidung mancung, kulit sawo matang dan satu lagi, gaya rambutnya khas ala chef arjuna.


Mataku membelalak, hatiku berdesir hebat. Ini hanya sebuah kebetulan…