Selasa, 18 Juli 2017

Sajadah




sumber gambar www.google.com/sajadah/


“Apa susahya tinggal tanda tangan di kertas itu” Suara sosok lelaki menggema dalam ruangan 4x4, menggetarkan hati bahkan merusak pikiran wanita dengan panggilan Sri.  Tangan Sri gemetar memegang pena diatas kertas berisi perjanjian mengerikan.  

“Kenapa kamu tega melakukan hal ini?” Sri hanya sanggup berkata lirih dalam hati.  Sedang lelaki itu terus saja memaksa dan mengancam Sri hingga mata menjadi sumber air melimpah. Seandainya ada seseorang yang bisa menolong Sri saat ini. Tentu saja itu tak pernah ada, bahkan mereka telah meninggalkan Sri sendiri, lalu aku digunakan sebagai alat dalam kejadian ini.

Bayi yang kini ada di gendongan Sri sudah berpindah tangan, menangis seolah mengerti akan dibawa pergi orang asing. Berkali-kali Sri menolak, tapi sayangnya semua sudah terlanjur dan harus diselesaikan. Secara hukum lelaki itu pasti memenangkan hak nya karena pernikahannya dengan Sri hanya secara agama dan tak pernah tercatat dalam negara.

“Semoga hidupmu tidak terlalu menyedihkan tanpa anak-anakmu” lelaki itu menuju pintu rumah dan pergi meninggalkan Sri dengan air mata dan hati yang terluka.  Sri mendekap kakinya erat dan mulutnya mencari celah untuk membiarkan oksigen masuk dalam paru-parunya.

Aku menatapnya lekat saat wajahnya mulai menempel pada tubuhku. Aku tahu di pikirannya adalah masa lalunya bersamaku dan Surya: lelaki kedua yang menikahinya.

Dulu saat dia pertama kali menjadi seorang janda, dia tak pernah terbesit pikiran untuk menikah lagi. Ah namun dugaannya tetu saja salah, buktinya dia menikah setelah satu tahun suaminya meninggal.

“Aku ingin menikahimu, bisakah aku menikah denganmu?” ujar Surya, suaranya begitu gagah, tentu saja dia seorang bujang. sedangkan Sri adalah janda dengan empat anaknya.

“Tapi aku punya tanggungan yang banyak. Aku punya banyak anak, mereka semua membutuhkan biaya. Bukan hanya sekedar biaya untuk makan sehari-hari, tapi aku telah berjanji pada almarhum ayah mereka untuk menyekolahkan mereka hingga selesai sarjana” Jawab Sri dengan tegas. Berdiskusi bersama dengan kakak perempuannya. Lelaki itu bahkan tak berani untuk berbincang empat mata dengan wanita yang belum menjadi mahramnya.

“Menikahlah Sri, agar fitnah yang melekat dalam hidupmu bisa hilang. Menjadi janda tentu tak seenak yang dipikirkan orang. Kita bukanlah penggoda suami orang, tapi terkadang para wanita lebih percaya pada suaminya daripada orang lain, terlebih janda seperti kita. Lihatlah bagaimana saudara tirimu bahkan mengolok-olok kehidupanmu. Hal itu tetap terjadi sekalipun janda seperti kita tak ingin menggoda suami mereka” Sri memeluk kakak nya erat, karena tahu bagaimana kakak nya digunjingkan masyarakat sebagai penggoda suami orang akibat status jandanya dengan wajah yang tentu saja menarik perhatian banyak lelaki.

Dengan persetujuan anak-anaknya Sri akhirnya menikah dengan Surya seorang pemuda yang dikenal dengan kejujuran dan ketulusan hatinya. Dengan alat sholat menjadi mas kawin dalam pernikahan ini. Kebahagiaan Sri jelas terpancar dari wajahnya yang semakin cantik.
“Walah mba Sri alhamdulillah sudah menikah, main-main mba ke rumahku” Ucap adik tiri Sri. Saudara tiri Sri sudah tak pernah cemburu dengan Sri, mereka dengan segera menyapa dan kembali mempercayai Sri.
“Iya dek, oh iya ada kerjaan ngga si buat mas Surya” Sri mencoba mencarikan pekerjaan dengan gaji yang akan mencukupi kebutuhannya dengan anak-anaknya.
“lah, bukannya Mas Surya udah kerja di dinas perindustrian ya mba?” dahinya terlihat mengkerut bahkan kini matanya terlihat memperhatikan penampilan Sri dari atas hingga kaki.
“walah dia di PHK kok dek jadi sekarang ya kerja serabutan aja” Jelas Sri.

Manusia adalah makhluk dengan kepuasan tanpa batas, seandainya kepuasan itu untuk mencapai kebaikan maka akan bahagia hidupnya, namun jika keburukan menjadi kepuasannya maka hanya kehidupan dunia yang membuatnya bahagia. Setiap mulut memiliki tuannya masing-masing sehingga kita wajib menjaga mulut dari kepuasan hal buruk.

Pernikahan mereka tak bisa bertahan lama, karena sikap Sri yang mulai banyak menuntut. Sri tak pernah bersyukur atas rezki yang diberikan suaminya. Dengan paras cantik yang dimiliki Sri, tentu saja banyak lelaki yang mengincar, ingin mengawini Sri. Dan ternyata Sri tak sekuat dan tak sehebat kakak nya. Dengan mudah Sri ditaklukan oleh lelaki beristri dengan harta berlimpah. Saat itu Sri masih mengandung bayi Surya, Surya berangkat merantau namun Sri berselingkuh dengan leleki itu, hingga akhirnya Sri meminta cerai dengan Surya. Setelah anak itu lahir, Bukan hanya itu perbincangan tetangga telah menjadi topik yang membuat api dalam hati Sri menyala, hingga akhirnya perceraian dirasa menjadi keputusan yang tepat.

Dan kini Sri resmi dipersunting oleh seorang lelaki beristri yang tak punya keturunan tanpa izin dari keempat anaknya. Sri begitu menikmati kehidupan mewahnya bergelimang harta sehingga membuatnya lupa akan keempat anaknya. Sri juga telah membohongi Surya mengatakan bahwa anaknya telah meninggal. Karena Sri akan mengurus bayi itu bersama lelaki barunya.

Keempat anaknya mulai tak tahan melihat perilaku Sri yang lebih senang mengejar dunia, dan tak bisa lagi dinasihati, hingga akhirnya satu per satu anaknya pergi meninggalkannya.

“Sri, biarkan saja dia pergi. Lagian dia sudah besar. Dasar anak tak tahu terimakasih. Sudah diurus juga masih melawan orang tua, dasar saja anak kamu itu kurang ajar. Sama saja dengan adik-adiknya” Lelaki itu memaki anak Sri yang pertama.

“Saya pamit pergi kalau memang kalian lebih suka hidup berdua tanpa gangguan kami. Aku juga akan membawa adik-adikku pergi” Anak pertama Sri mengancam, matanya memerah jemarinya menggenggam erat.

Entah pagi atau sore, sekarang Sri tak pernah tahu kabar anak-anaknya, hingga akhirnya lelaki itu berubah, pun begitu dengan istrinya. Bayi Sri dengan Surya lebih sering diajak ke rumah istri tuanya.

 “Sri, kasihan Fira dia kan mau sekolah, jelas saja dia butuh akta kelahiran dan kartu keluarga, kita kan belum menikah secara resmi, gimana kalau Fira masuk saja dalam kartu keluargaku”

“begitu ya Mas, iya juga si kasihan juga dia ya. Yasudah mas, diatur saja sama Mas, aku percaya sama mas”

Sri menyerahkan semua kehiduoannya pada lelaki itu, bahakan dia telah merelakan anak-anaknya demi suami barunya. Tanpa Sri sadari bencana telah menimpa dirinya.
“Assalamualaikum…. Sri buka pintunya”
“Waalaikumsalam, kamu ngga bisa ambil Fira dari aku, dia anakku dengan as Surya”
“Sayangnya dia sudah menjadi hak ku Sri, dalam catatan negara pun dia adalah anak sah milik aku dan Ningsih. Bukan kamu Sri. Dan sekarang kamu harus menandatangani surat ini. Perjanjian bahwa kamu tidak akan menemui Fira lagi”

“Apa maksud kamu mas, jadi ini rencana kamu setelah menikahi aku dan memisahkan aku dengan anak-anakku”

“Apa susahya tinggal tanda tangan di kertas itu” Suara sosok lelaki menggema dalam ruangan 4x4, menggetarkan hati bahkan merusak pikiran wanita dengan panggilan Sri.  Tangan Sri gemetar memegang pena diatas kertas berisi perjanjian mengerikan.  

“Kenapa kamu tega melakukan hal ini?” Sri hanya sanggup berkata lirih dalam hati.  Sedang lelaki itu terus saja memaksa dan mengancam Sri hingga mata menjadi sumber air melimpah. Seandainya ada seseorang yang bisa menolong Sri saat ini. Tentu saja itu tak pernah ada, bahkan mereka telah meninggalkan Sri sendiri, lalu aku digunakan sebagai alat dalam kejadian ini.

Aku adalah sajadah mas kawin Sri dengan Surya, tapi aku pun tak bisa berbuat apa-apa saat tubuhku sempurna melilit di wajah Sri menutupi hidungnya. Kini aku sudah merasakan napas Sri hanya tinggal sepenggal dua penggal. Aku pernah menyelamatkannya dari fitnah keji masyarakan penggunjing, tapi aku juga telah menjadi pembunuh paing keji di sisa hidup Sri.

#TantanganKelasFiksi1
#TantanganODOP

1 komentar:

  1. Kesian yaa si Sri.

    Nice Story.. hehe

    Ka kunjungi balik dong, kalo bisa follow, saya mau follow tidak tercantum widget tteman blog, jadi follow akun Google+ aja

    BalasHapus